apa yang tertinggal? kenangan.
Sekantong besar kenanga dari halaman depan rumah dan beberapa jenis bunga lainnya itu untukmu, mungkin satu dua hari kedepan akan segera menguning dan layu lalu kering.
Mengingat, tidaklah ada keabadian yang seringkali ditawarkan dan atau diklaim untuk segala bentuk keterikatan oleh manusia-manusia yang terlalu sering lupa bahwa senyata-nyatanya keabadian hanyalah milik sang pencipta.
Aku mengingatmu.
Dalam selingan lupa, aku mengingatmu. Dalam renungan sunyi tengah malam pun atau dini hari, aku mengingatmu. Dalam tiap rangkaian ibadah sesaat setelah salam, aku menengadahkan telapak tangan dan berdoa untukmu. Aku mengingatmu. Percayalah, kami semua mengingatmu.. :’)
Seringkali lewat ucap lirih yang tak tertangkap jelas oleh indera pendengaran, dengan segenap keyakinan penuh akan keberadaan surga. Semoga kamu berada di dalamnya.. Harapku.
Ini untukmu, ini coretan untukmu. Ingatanku yang melebur kepada waktu. Kenangan yang seutuhnya. Kenangan yang sebagian besar berupa ingatan, dan sedikit sekali esensi kebendaan yang tersisa. Kenangan bagiku, cukup dilekatkan erat dalam memori sebelum akhirnya menyerah pada usang dan kalah oleh lupa dimakan usia.
aku menyesapi seluruh bagian masa lalu dimana terdapat dirimu. Merenungi enam belas tahun pertama dalam hidupku. Dan oleh potongan-potongan kisah yang terekam itu, sengaja kujalin kembali agar suatu saat nanti tercipta kalimat-kalimat polos dan tulus yang diucapkan sebagai doa untukmu dari generasi mendatang.
Aku ingin mereka tetap bisa mengenalimu. Membenarkan keberadaanmu, mengetahui tentangmu dari sederet coretan-coretan yang kubuat.
Mungkin, nanti akan ada kalimat sesederhana ini sebagai bentuk doa..
‘Semoga eyang kakung masuk surga.. Aamiin..’
aku mengingatmu. Kami mengingatmu.
Teruntuk ayah,
2012, 29th dec.
Mengingat, tidaklah ada keabadian yang seringkali ditawarkan dan atau diklaim untuk segala bentuk keterikatan oleh manusia-manusia yang terlalu sering lupa bahwa senyata-nyatanya keabadian hanyalah milik sang pencipta.
Aku mengingatmu.
Dalam selingan lupa, aku mengingatmu. Dalam renungan sunyi tengah malam pun atau dini hari, aku mengingatmu. Dalam tiap rangkaian ibadah sesaat setelah salam, aku menengadahkan telapak tangan dan berdoa untukmu. Aku mengingatmu. Percayalah, kami semua mengingatmu.. :’)
Seringkali lewat ucap lirih yang tak tertangkap jelas oleh indera pendengaran, dengan segenap keyakinan penuh akan keberadaan surga. Semoga kamu berada di dalamnya.. Harapku.
Ini untukmu, ini coretan untukmu. Ingatanku yang melebur kepada waktu. Kenangan yang seutuhnya. Kenangan yang sebagian besar berupa ingatan, dan sedikit sekali esensi kebendaan yang tersisa. Kenangan bagiku, cukup dilekatkan erat dalam memori sebelum akhirnya menyerah pada usang dan kalah oleh lupa dimakan usia.
aku menyesapi seluruh bagian masa lalu dimana terdapat dirimu. Merenungi enam belas tahun pertama dalam hidupku. Dan oleh potongan-potongan kisah yang terekam itu, sengaja kujalin kembali agar suatu saat nanti tercipta kalimat-kalimat polos dan tulus yang diucapkan sebagai doa untukmu dari generasi mendatang.
Aku ingin mereka tetap bisa mengenalimu. Membenarkan keberadaanmu, mengetahui tentangmu dari sederet coretan-coretan yang kubuat.
Mungkin, nanti akan ada kalimat sesederhana ini sebagai bentuk doa..
‘Semoga eyang kakung masuk surga.. Aamiin..’
aku mengingatmu. Kami mengingatmu.
Teruntuk ayah,
2012, 29th dec.
Published with Blogger-droid v2.0.10
aamiiin yaa Robb...
ReplyDelete