karena
Sepahit pahit nya yang pernah terjadi padaku. Aku bertahan. Kepahitan bergulir, aku tetap bertahan. Aku tidak mencoba meminum racun dan atau lenyap ditelan bumi. Aku bertahan. Maka aku tau, aku sekuat itu.
Luar dalam. Aku sekuat itu. Takjub.
Adikku dan kedua kakak perempuanku. Sama saja. Mereka sekuat aku. Satu alur dalam seribu emosi. Kami, empat dara. Kami sekuat itu. Aku takjub bahwa kami bisa sekuat ini.
Bunda. Sebagai segala sumber. Bunda setegar itu. Penuh hal rumit dan tetap tegap walau mungkin ringkih dalam jiwa.
Bunda. Segala sumber. Segenap penyebab. Namun tetap tak aku bisa mengecap segala kata yang terucap darinya.
Yang aku dan tiga saudara perempuanku tau hanya satu. Kami mencintai bunda. Kami mencintai bunda. Selesai perkara.
Semoga ayah tau mengapa aku memilih menjadi pahit saat itu. Semoga ayah mengerti mengapa aku, adik dan kakak2 memilih untuk.....
Comments
Post a Comment